
Saya membayangkan Bahwa Arsip Nasional itu seperti gudang. Pengap dan berjamur. Lalu ada sejumlah sejarawan tua datang ke sana untuk mengutak-atik sejumlah arsip. Ah itu dulu. Bayangan itu telah sirna. Sebagai produser dokumenter tentu saya sangat tau akan pentingnya footage lama untuk mendeskripsikan visual sejarah pada periodesasi masa tertentu. Ke mana harus dicari? Ke TVRI, ternyata sistem library di TV tertua ini tidak cukup bagus. Juga di beberapa televisi tempat saya bekerja, mereka tidak sadar arsip.
Joko Utomo, seorang pejabat karir di Arsip Nasional yang kemudian memimpin jabatan puncak di lembaga negara itu cukup media literer. Artinya ia paham betul kebutuhan media akan footage. Maka kini lembaga yang dipimpin Pak Joko jauh lebih ramah dari sisi pelayanan dan mencoba membuang image buruk tentang lembaga kearsipan. Saya kira di era Pak Joko-lah saya dengan mudah mendapatkan footage tanpa urusan dan birokrasi yang rumit. Sistem pencarian, sistem penyimpanan yang sudah ditata dengan amat baik, sangat memudahkan kami.
Satu terobosan lain untuk mencari jalan kebuntuan atas kelangkaan atas arsip lisan, Pak Joko mendengar pendapat sejumlah kawan media yang banyak berhubungan dengannya untuk merekam pengakuan-pengakuan para pelaku sejarah agar kebenaran tidak dimiliki oleh pembuat “buku putih” saja. Joko telah melakukan ini.
Saya kira orang seperti Yusril, Moerdiono dan Habibie yang berada pada lingkaran Soeharto pada Mei 1998 –mumpung masih hidup—harus didengar dan diarsipkan pengakuan lisan mereka. Kita sudah banyak kecolongan soal pengakuan lisan para tokoh sejarah kita. Jenderal Jusuf yang menjadi jenderal terakhir pelaku sejarah Supersemar, bahkan pada akhir hayatnya tak sempat “merekam” pengakuannya soal surat sakti itu.
Habibie juga saksi hidup untuk satu keputusan “memerdekakan” Timor Timur. Ali Alatas sudah meninggal, saya tidak tahu apakah kesaksian Ali Alatas pernah direkam oleh Arsip Nasional. Tokoh lainnya yang masih hidup adalah Wiranto. Keputusan “memerdekakan” Timtim ini juga masih menjadi kontroversi hingga kini.
Mestinya ada kondisi yang “memaksa” para pelaku sejarah itu bersaksi lisan kepada Arsip Nasional. Sehingga anak cucu kita tidak bersengketa atas fakta sejarah. Kebenaran haruslah mereka cari pada gudang-gudang arsip milik negara ini. Kini memang Arsip Nasional Republik Indonesia tidak lagi tampak seram. Jika tak ingin melihat koleksnya kita bisa melihat deorama sejarah yang sudah dipajang sejak beberapa bulan lalu.
Pak Joko telah mewariskan lembaga arsip yang berwibawa, dan mengantarkan seorang presiden macam SBY untuk berkunjung melihat Arsip Nasional, sebuah kesempatan yang tak pernah diraih oleh Kepala Arsip Nasional sebelumnya.
Pak Joko, selamat memasuki purna tugas, warisan Pak Joko akan terus saya nikmati sampai kapanpun.
0 komentar:
Post a Comment