
Jangan miss leading”. Itu pesan Hary Tanoesodibyo, Dirut RCTI, ketika pertama kali menugaskan saya menset up departemen Infotainment yang dimerger ke departemen features pada divisi news RCTI di bulan Agustus 2004.
Ada banyak kasus hubungan yang kurang sedap antara wartawan infotainment dengan para selebritas pada tahun itu. Kasus percerian Niki Astria yang berakhir keributan karena mobil Niki dihalangi oleh para wartawan infotainment. Puncaknya adalah kasus Parto Patrio yang terpaksa menambakkan senjatanya di hadapan wartawan infotainment lantaran Parto kesal, wartawan mengungkit pernikahan kedua Parto dengan seorang gadis belia.
Pak HT, demikian Hary Tanoesidibyo dipanggil di RCTI, kemudian mengumpulkan semua pemilik rumah produksi yang memasok infotainment ke RCTI. Ada Ilham Bintang, mbahnya infotainment, ada Eko Patrio, pemilik rumah produksi Ekomando, Ada William, pemilik Indigo dan juga hadir Sandika, PH yang memroduksi Kabar Kabari. Intinya ada kesepakatan pada waktu itu agar wartawan infotainment dibekali etika dalam meliput kegiatan selebritas.
Di media massa muncul banyak sekali artikel dan talk show yang membahas bagaimana hubungan infotaiment dan selebritas. Perdebatan di media pada saat itu menyoroti satu hal yang esensial yakni apakah reporter dan kamerawan infotainment adalah wartawan. Pertanyaan ini masuk akal, karena dengan cara kerja memaksa narasumber, mencegat dan memasuki ruang privasi tanpa izin, memang tak lazim dalam etika kerja wartawan. Karena itu ada organisasi wartawan yang tidak mau memasukkan mereka sebagai wartawan dan hanya menyebutkan mereka sebagai awak atau pekerja saja.
Saya untuk kasus ini tidak sepakat dengan arus utama. Saya sepakat dengan Ilham Bintang. Mereka adalah wartawan. Mereka meliput berita, peristiwa dan hasil liputannya dimuat. Karena itu sebagai pengurus PWI, Ilham Bintang sangat gigih memperjuangkan agar seluruh wartawan infotainment masuk sebagai anggota PWI. Melalui organisasi inilah Ilham mencoba mentasbih mereka agar memiliki kitab suci dalam bekerja yakni; kode etik jurnalistik. Ilham dan saya mencoba istiqomah agar tayangan infotainment kami yakni Check&Rechek dan GO SPOT setidaknya berada di jalur yang benar dalam pemberitaan selebritas.
Akibat Persaingan
Perburuan gosip dan tuntutan atas rating dari industri televisi lah yang menyebabkan rumah produksi dan wartawan infotainment berubah menjadi paparazi. Kata-kata eksklusif dan investigasi diumbar dan diobral murah dan sangat murahan demi sebuah sensasi belaka.
Apa eksklusifnya apabila meliput perjalanan artis yang sedang bercerai umroh hanya karena PH itu satu-satunya yang diajak sang artis. Apa nilai investigasi-nya ketika menguntit hubungan gelap Putu Arisuta dan Reza Artamevia, hanya karena menggunakan banyak teknik investigasi, misalnya dengan kamera tersembunyi.
”Berita apa bisa saja menggunakan ivestigatif trail, tapi dia belum tentu berita investigasi. Sebab berita investigasi bermain pada pengujian hipotesa atas berbagai banyak kekeliruan yang menyebabkan kepentingan publik terganggu,” kata David Spark dalam buku Ivestigative Reporting, A Studi in Technique.
Kenapa tidak ada infotainment yang menginvestigasi Al-Amin, suami pedangdut Kristina yang diduga menerima suap? Padahal bila ingin memasuki ruang investigasi, kasua Al-Amin sangat memungkinkan dilakukan. Al Amin adalah anggota DPR yang digaji rakyat. Perilakunya sudah merugikan negara. Perhatikan apakah infotainment melakukan investigasi kasus ini? Tidak! Pertama ini newsy sekali, tidak gossipy. Kedua isu Al-Amin dan Kristina kurang hot dibanding Reza dan Putu yang melibatkan anggota DPR Aji Massaid, suami Reza.
Jadi jelaslah bahwa ini adalah perburuan atas sensasi. Eksklusif dan Investigasi pada ranah infotainment menambah bobot sensasi itu. Dan ini sangat disukai oleh industri televisi yang mendewakan rating.
Ada sekitar 50-an tayangan infotainment di televisi, ada ratusan orang yang bekerja di sini terutama para reporter dan kamerawan. Mereka adalah pekerja yang gigih. Mereka bisa saja nongkrong semalaman di halaman rumah narasumber atau berkemah sekalian hanya untuk mengejar statement terbaru dari sang selebritas. Bekal yang amat layak sesungguhnya apabila energi positif ini diarahkan pada liputan di luar infotainment.
Di manakah posisi penonton infotainment? Penonton bagi televisi adalah angka statistik bagi televisi. Semakin sensasional dan semakin hot gosip itu maka terbayanglah sudah dulangan rating yang akan didapat. Lingkaran setan angka statistik itu gampang sekali, penonton = rating. Rating = iklan. Iklan = uang. Uang = program. Program = penonton. Begitu seterusnya.
Maka jangan tanya tanggung jawab moral televisi terhadap penonton infotainment. Ada anak Ahmad Dani dan Maia yang terseret pusaran persoalan orang tuanya. Kasus yang sama terjadi pada Tamara Blezinsky dan Rafi. Dua kasus yang oleh KPI dilarang melibatkan anak sang selebritas. Tapi lihatlah ini tontonan yang amat menarik.
Memberi Kontrol
Penonton, sebagaimana industri televisinya tidak akan mau tahu terhadap proses pergulatan di lapangan. Perang kru di lapangan sudah mengarah pada persaingan yang amat tidak sehat. Ada PH yang berani membayar sang artis untuk membuat pengakuan eksklusif. Cara mana yang dalam etika jurnalistik dilarang sama sekali.
Jadi wartawan infotainment betul-betul dijebak pada situasi yang sulit. Maka Ilham Bintang yang wartawan itu hanya bisa gigit jari melihat program infotainment yang ia gawangi turun rating hanya kurang sensasional dengan produk tetangga. Delima ini juga menimpa saya. Masuknya infotainment ke dalam Divisi News RCTI adalah cara lain dari implementasi pesan Pak HT, agar kita tidak ”miss lead”. Masuknya infotainment dalam interaksi ruang redaksi RCTI juga tak bebas dari kecaman. Masih banyak ruang redaksi yang masih steril dari infotainment.
Saya mencoba mengambil hal yang positif saja dari masuknya infotainmen pada ranah ruang berita. Pertama adalah kontrol atas perilaku wartawan akan lebih baik, terutama dari perilaku buruk menerima amplop dan melakukan pencopian tanpa courtesy atas peristiwa yang tidak didapat oleh TV peliput. Istilah di lapangan namanya ”cloning”. Buat saya cloning atas gambar adalah kejahatan. Cloning inilah yang menyebabkan mengapa informasi tayangan infotainment seragam.
Kedua, kontrol atas isi berita untuk tidak miss lead. Gosip memang gosip. Tapi upaya konformasi tetap harus dilakukan, sehingga paling tidak cover both sides yang dijaga betul oleh awak redaksi juga masuk pada ranah infotainment.
Tapi godaan atas sensasi dan tuntutan industri kadangkala melemahkan sikap-sikap istiqomah orang-orang yang mencoba meluruskan infotainment. Tapi inilah industri televisi, tidak ada wilayah abu-abu. Ya atau mati. Simpel sekali. Dalam kesendirian itu saya juga berpikir simpel, Infotainment memang tidak dibuat untuk memenuhi kebutuhan informasi pemirsa. Infotainment ternyata hanya memenuhi rasa ingin tahu pemirsa atas kehidupan selebritas.
0 komentar:
Post a Comment