Search This Blog

Loading...

Followers

Friday, October 01, 2010

Poltik Batik Ibu Negara


Stasiun Kereta Api Gambir pagi itu lebih ramai dari biasanya. Pihak stasiun sedang menyiapkan sebuah rangkaian kereta api luar biasa. Disebut luar biasa karena penumpang kereta ini adalah Ibu Negara, istri Wakil Presiden, sejumlah menteri, istri menteri, pengusaha dan istri pengusaha.

Suasana ruang kedatangan juga jadi lebih semarak, undangan berdatangan dan semuanya menggunakan batik. Rombongan enam gerbong ini akan berkujung ke Cirebon. Ibu Negara akan bertatap muka dengan para perajin batik dan langsung meninjau pusat kerajinan dan indsutri batik Trusmi di kecamatan Plered, Cirebon.

Menyiapkan kereta kepresidenan memang bukan yang pertama bagi PT Kereta Api. Ini kali kedua dalam bulan ini. Sebelumnya presiden SBY juga menggunakan kereta api luar biasa saat berkunjung ke Cirebon untuk meresmikan jalan tol. Sebagai kereta kepresidenan terntu saja kereta api ini super ekspres. Tidak langsir di stasiun yang dilewati dan di semua stasiun dan perlintasan dijaga polisi dan tentara. Petugas di dalam kereta selalu berkomunikasi untuk memastikan semua stasiun yang dilewati dalam keadaan aman!!

Gerbong dalam rangkaian kereta api ini pun dipilih gerbong yang terbaik. Khusus gerbong ibu Negara, interiornya didisain khusus sesuai dengan standar kepresidenan. Sebagai tuan rumah, Ibu Ani Yudhoyono kemudian menyapa tamunya satu persatu di seluruh rangkaian gerbong. Maklumlah tamu ibu Negara kebanyakan istri menteri dan istri bekas menteri di kabinet SBY sebelumnya. Bahkan para istri menteri di era Soeharto pun diajak serta.

Perjalanan ke Cirebon yang dengan kereta api ekspres biasanya ditempuh dalam waktu 5 jam. Dengan kereta api luar biasa ini hanya ditempuh dalam waktu 3 jam. Untuk mengisi waktu di perjalanan ibu Ani mengadakan fashion show untuk para tamunya dan yang menjadi juri adalah para wartawan

Pukul 10 pagi Kereta Api sudah tiba di stasiun Cirebon dan Rombongan Ibu Negara segera menuju ke Gedung Negara Cirebon. Di Gedung Negara Cirebon ibu Negara bertatap muka dengan para pengrajin batik se Jawa Barat sekaligus menyerahkan 600 kompor gas yang didisain khusus untuk membatik. Selama ini para pengarajin menggunakan kompor minyak tanah, Menurut para ahli batik, penggunaan kompor gas akan membuat panas yang merata sehingga hasil lukisan batik pun menjadi lebih baik.

Selama ini memang orang banyak mengenal kalau batik itu berasal dari Solo atau Jogjakarta. Tidak salah memang, karena batik di kawasan ini telah menjadi industri dengan skala ekonomi yang besar. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan setiap kabupaten di Jawa Barat memiliki kekhasan batik tersendiri. Dan yang paling terkenal memang batik Cirebon dengan motif Mega Mendung yang sangat disukai.

Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana, yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif ini dipengaruhi oleh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang di Cirebon, batik motif mega mendung telah banyak digunakan berbagia kalangan dari seragam batik sekolah, seragam batik para pegawai pemerintahan, guru, pns, dan berbagia kalanagan lainnya. Motif batik Cirebon juga dipengaruhi budaya pendatang, terutama Cina, Arab dan India. Karena itu batik Cirebon banyak yang bermotif bunga seperti motif patra, tabur bunga, mawar pakis dan lain-lain.

Batik Indonesia oleh Unesco sudah ditetapkan sebagai warisan kemanusiaan dan budaya lisan nonbenda. Ada banyak keuntungan dengan penetapan ini. Antara lain batik menjadi semakin terkenal dan Indonesia akan mendapat bantuan teknis dari lembaga kebudayaan PBB ini untuk kepentingan konservasi batik.

Karena membawa rombongan yang berkantong tebal, Ibu negara memastikan bahwa rombongannya akan berbelanja batik di pameran batik Jawa Barat yang diadakan di samping Gedung Negara Kota Cirebon. Dan tersenyumlah para perajin siang itu ...

Desa Trusmi, Kampung Batik


Bagi penggemar batik desa Trusmi memang tidak asing lagi. Desa ini berada di kawasan Plered terletak hanya 5 kilo meter dari pusat kota Cirebon. Ada dua desa yang menjadi sentra batik yakni Trusmi Wetan dan Trusmi Kolon. Tak kurang 650 kepala keluarga menjadikan rumah-rumah mereka sebagai industri rumahan.

Sejarah batik Trusmi sudah dimulai sejak zaman walisongo. Adalah Ki Gede Trusmi yang mendirikan desa ini, Tahun 1950, Trusmi sudah menjadi desa yang maju di Cirebon. Koperasi batik mereka sudah mendirikan gedung yang megah untuk zaman itu, Koperasi batik Budi Tresna ini didirikan oleh almarhum Haji Masina.

Kini Gedung Koperasi ini diijadikan ruang pamer bagi pengarjin batik yang tergabung dalam koperasi ini. Masnadi Masina anak Haji Masina duduk sebagai sekartaris asosiasi pengrajin batik Trusmi.

Batik Trusmi memiliki ciri khas pada permainan warna dan gradasi warna yang ceria dan berani. Motif memang masih didominasi oleh mega mendung yang kaya warna. Tapi kini motif mega mendung itu sudah ditambah dengan berbagai sentuhan disain yang lain.

Pertumbuhan pesat desa batik trusmi terutama terjadi di tahun 2000 an. Ini dapat dilihat dari gerak dan ruang pamer batik yang berjejer di sepanjang jalan Desa Trusmi. Sebagian gerai dimiliki oleh warga Trusmi dan beberapa pemodal dari luar.

Selain berjualan batik ada gerai yang mengajarkan cara dan teknik membatik. Di Batik Katura misalnya, sejumlah anak SMK menjadikan tempat ini sebagai tempat praktik mata pelajaran muatan lokal membatik. Setiap minggu selama 4 jam mereka ke sini untuk belajar membatik, mulai dari disain, melukis, teknik pewarnaan sampai menjadi satu lembar kain batik.

Tak hanya siswa SMK yang belajar membatik. Seorang Turis Jepang, Yasuo bahkan tinggal di desa ini beberapa tahun untuk menekuni seni batik Trusmii.
Soundbite ibu Ani dengan turis Jepang Karenanya tak heran bila dalam kunjungannya ke Cirebon, separoh waktu dalam hari itu Ibu Ani dan rombongan menghabiskan waktu di Desa Trusmi.

Belakangan Desa Trusmi juga berkembang sebagai desa wisata batik. Banyak turis lokal maupun asing yang datang ke sini untuk berbelanja atau sekadar cuci mata melihat keeksotisan batik Trusmi. Ada banyak gerai yang dikunjungi Ibu negara, Batik Ninik Ichasan, Batik Salma adalah tempat kunjungan yang pertama.
Sementara di Batik Katura Ibu Ani disambut anak-anak SMK II Cirebon yang sedang belajar membatik di sini

Rangkaian perjalanan ditutup dengan mengunjugi Koperasi Batik Budi Tresna, sebagai koperasi batik tertua di Trusmi. Tentu saja kunjungan Ibu Negara ke desa ini disambut amat antusias. Rombongan ibu negara bukan sekadar berkunjung, tapi juga berbelanja, Jika 160 orang rombongan ibu-ibu menghabiskan rata-rata 2 juta rupiah pada hari itu maka setidaknya lebih dari 300 juta rupiah omset para perajin batik yang bisa didapat dari kunjungan ini.

Kunjungan Ibu Negara, Ibu Wakil Presiden dan Ibu-ibu menteri ke Cirebon merupakan ”politik batik”! Ini adalah event yang membuat ibu-ibu pejabat ini sedikit terhindar dari hiruk pikuk politik di Jakarta. Tidak ada sambuatan demonstrasi sebagaimana sering diterima oleh Presiden dan Wakil Presiden. Ibu negara malah disambut oleh banyak spanduk yang berisi doa agar presiden dan ibu negara terhindar dari fitnah. Yang jelas darmawisata satu hari di Cirebon ini telah mengendurkan urat saraf mereka.

Pukul lima sore Kerata Api Luar Biasa meninggalkan Cirebon. Perjalanan satu hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Dan di dalam perjalanan pulang Ibu Ani mengumumkan pemenang peragaan busana di dalam kereta. Mereka yang mendapatkan penghargaan itu adalah: Ibu Poppi Hayono Isman, Istri Dubes Singapura untuk Indonesia Ny Gouri Mispuri dan Ny Sranya Marti Natalegawa.

Seperti kata Ibu Negara, kunjungan ke sentra-sentra batik akan terus ia lakukan di banyak tempat di Indonesia untuk memastikan satu hal bahwa batik masih diproduksi dan dikembangkan. Dan di dalam kartu ucapan terimaksih yang dibagikan di atas kereta dalam perlanan Ibu Ani Bambang Yudhoyono menuliskan: Aku Ingin melihat Batik Indonesia hidup seribu tahun lagi ....

0 komentar: